Logo
AL-MUHAJIRIN
SELAMAT DATANG DI WEBSITE MASJID AL-MUHAJIRIN PT. HUTAHAEAN
image

Refleksi di bulan Rajab berfokus pada momentum Muhasabah diri (introspeksi), meningkatkan kualitas ibadah, dan bersiap menyambut Ramadhan. Sebagai salah satu bulan haram (mulia), Rajab adalah waktu tepat untuk bertaubat, meninggalkan maksiat, memperbanyak puasa sunnah, zikir, dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia. 

Sama-sama kita ketahui dibulan Rajab ini juga ada peritiwa yang menumental,dimana Rasululloh Saw. Isro’ dan Mi’roj,sampai pada akhirnya pada peristiwa ini Allah SWT perintahkan pada umat Islam diperintahkan menjalankan ibadah Shalat 5 kali sehari semalam.

Sabda Rasululloh Saw.

Ada lima shalat yang Allah wajibkan atas para hamba. Barangsiapa melaksanakannya dan tidak melalaikan salah satu darinya dengan tidak memenuhi haknya, maka ia mendapatkan janji dari Allah akan dimasukkan ke surga. Dan barangsiapa tidak melaksanakannya, maka ia tidak mendapatkan janji dari Allâh tersebut. Jika Allah menghendaki, maka Ia menyiksanya dan jika Allah menghendaki, maka Allah memasukkannya ke surga (HR al Bayhaqi)


Disamping bulan Rajab adalah bulan persiapkan untuk menghadapi Ramadhan, tentu bulan Rajab juga sebagai bulan untuk refleksi peningkatan kualitas ibadah Shalat.

Lalu bagaimana supaya kualitas ibadah Shalat kita meningkat,di kutip dari laman:  https://lampung.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-bulan-rajab-tiba-saatnya-mengevaluasi-kualitas-shalat-kita-q1RYh


Shalat seseorang dikatakan sah apabila telah memenuhi seluruh syarat sah dan rukunnya serta menjauhi semua hal yang dapat membatalkannya.  Namun demikian, shalat yang sah belum tentu diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. 

 Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’alawi dalam Sullamut Taufiq menjelaskan bahwa supaya shalat kita diterima oleh Allah, selain kita harus memenuhi syarat sah dan rukunnya, kita juga harus memenuhi syarat-syarat diterimanya shalat,

yaitu: Berniat ikhlas karena mengharap ridha Allah semata.  

Makanan dan minuman yang ada di perut kita sewaktu shalat harus halal.

Pakaian yang kita kenakan pada saat shalat harus halal.

Tempat yang kita gunakan shalat harus halal.

Shalat yang kita lakukan harus disertai kekhusyukan, walaupun hanya sebentar. 

Semakin lama kadar khusyuk kita dalam shalat, maka semakin besar pahala yang kita dapat dari Allah ta’ala. Tidak ujub dengan shalat yang dilakukan. Ujub artinya apabila seseorang melihat bahwa kemampuannya menjalankan ibadah adalah keistimewaan dirinya, dan ia lalai untuk mengingat bahwa hal itu sejatinya adalah karunia dari Allah.   

Kesimpulan

bahwa shalat akan di terima jika memenuhi Syari’at dan Hakikat.

Syari’at yang dimaksud disini adalah segala sesuatu yang mengatur tatacara pelaksanaan ibadah Shalat, wajib faham syarat, rukun dan sunah dalam shalat yang mana itu semua diatur dalam ilmu Fiqih. Sementara Hakikat menurut Guru Kami Al-Ustadz Al-Maghfurlah KH. Ahmad Dzunaidi Soheh Jakarta. Hakikat itu akan datang setelah semua syari’at telah dilkasanakan dengan benar (Wallahu a'lam bish-shawab)

Penulis: Abu Imam